But  Melanesians have ignorantly allowed the guests say and do whatever they want to say and do. What a nightmare!!!! Far before any modern religions came,  either Jew,  Christianity,  Islam,  Hinduism or Buddhism, we Melanesians already have religions we inherited from our ancestors that we call kastam or adat. We knew Go...

Shop now !

Rp.100000.00 . Penulis buku Rudolf Kambayong saat memaparkan isi buku – Jubi/dok panitia Jayapura, Jubi – Sekretariat Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua meluncurkan buku terbaru berjudul Papua ‘surga’ yang terlantar, Rabu (14/11/2018). Buku yang memuat laporan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dari ...

Shop now !

OPEN LETTERS from the Koteka Children: Edition XIIIa, To Hon. Her Excellency: in-Vanuatu Buku Seri XIII dari Surat-Surat Terbuka Anak Koteka ini terdiri dari tiga Edisi (XIIIa – XIIIc). Berikut terjemahan pengantar kepada Edisi XIIIa. Pada awalnya saya bermaksud menulis hanya satu buku, akan tetapi setelah dua tahu menyusun konsepnya dan menulis...

Shop now !

Rp.000.00Description your product.............Papua Books by w@tchPAPUA...

Shop now !

Rp.000.00Description your product.............Papua Books by w@tchPAPUA...

Shop now !

Papua Books by w@tchPAPUA...

Shop now !

Rp.300.000.00 Judul Buku: U Me Ki Anakletus Tuan, Jend. Kelly Kwalik Penulis:    Beny Wenior Pakage Tebal Buku: 476 Halaman Penerbit:      PT. Sinar Harapan Jakarta Keunikan:    27 foto berwarna dan 5 foto tokoh OPM di Papua Harga:   Rp.300.000,- Beli Dari Penuilis:  081240331323 Beli dari P...

Shop now !

$10.000 Banyak pihak sudah mengumandangkan dialog antara pemerintah dan Orang Papua atau dialog Jakarta - Papua untuk menyelesaikan konflik Papua secara damai. Namun, hingga kini belum ada suatu konsep tertulis tentang dialog Jakrta - Papua yang dikehendaki oleh pemerintah dan Orang papua. Buku yang menawarkan konsep dialogue Jakarta 0 Pap...

Shop now !

Guests Should Not be Allowed to Rule the House

But  Melanesians have ignorantly allowed the guests say and do whatever they want to say and do. What a nightmare!!!!

Far before any modern religions came,  either Jew,  Christianity,  Islam,  Hinduism or Buddhism, we Melanesians already have religions we inherited from our ancestors that we call kastam or adat.

We knew God is the one who created, sustains, protects and guides us all.  We  knew he is the almighty God. We knew many stories about him.

The only thing we did not know was that Jesus was a Jew and the Jewish people are the chosen ones, Melanesians are sinners, outside God's chosen tribe. 

By eliminating the rest of us and pointing fingers to only one human community in the world that "God"  have chosen one they already planted the seed of competition, rivalry, and conflicts.

The first message, that they call "Good News" in actual fact starts with a "bad news" right the opposite of the name. They  came and successfully and seriously destroyed the whole defense system ever had existed in our society. They said "YOU ARE SINNERS AND THAT SINNERS MUST GO TO HELL! " FULL STOP

The mental  terrorism act continued with another mental psychological terror, "BUT SORRY,  NO SNGLE PERSON IN THE WHOLE WORLD CAN SAVE ANYONE FROM THE PUNISHMENT! "

It means there is no way out from the punishment. Dot. 

But they said,  ONLY IF YOU BELIEVE IN JESUS then you will be saved. Yes,  just believe. The price for death penalty awaiting is just believe?

How cheap or how expensive is this?  Dead penalty?  Then no need to do anything but just believe?  What kind of punishment is this?  Real one? 

After our mind was terrorised and conquered then they started taking over the whole business of our lives, starting from our birth to our death. They took control and told us we should follow their rules

What kind of guests are these guys?

Don't you Melanesians know that these are the guys who are destroying our planet earth?  Don't you know that we are already in paradise but we where taught about paradise that they never knew?

Only foolish Melanesians will allow guests to take over their household and let them rule.

We Melanesians have our customs and customary laws that are already perfect, suitable and appropriate for our world and society. Those guests who do not know PARADISE whose island do not have the Bird of Paradise should now feel foolish and surrender to our Melanesian values and customs that are already in paradise NOT IN THE WAY TO PARADISE as they preach

We Melanesians should now come out and fix these modern religious teachings that destroy our planet earth that God created for us to be responsible caretaker, not blind, insensitive, mind based life as modernity has been teaching so fsr

Buku Papua ‘surga’ yang terlantar, dokumentasi pelanggaran HAM di Papua 2015-2017

Loading...
Rp.100000.00
.

Penulis buku Rudolf Kambayong saat memaparkan isi buku – Jubi/dok panitia
Jayapura, Jubi – Sekretariat Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua meluncurkan buku terbaru berjudul Papua ‘surga’ yang terlantar, Rabu (14/11/2018). Buku yang memuat laporan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dari lima sekretariat keadilan dan perdamaian (SKP) se tanah Papua periode 2015-2017.
Penulis buku, Rudolf Kambayong menjelaskan Papua, selain tanah yang kaya, ‘surga’ akan sumber daya alamnya, Papua juga menjadi ‘surga’ tumbuhnya segala kekerasan dan pelanggaran HAM (Sipol dan Ekosob serta Lingkungan Hidup).
“Semuanya ini masih belum diselesaikan dengan secara baik, benar dan adil oleh Negara Indonesia. Negara dengan segala kepentingannya, melalui elit birokrasi maupun aparat keamanan, terus mengganggu Tanah dan Manusia Papua,” katanya di Aula STFT Fajar Timur Abepura, Rabu (14/11/2018).
Kasus penembakan di Intan Jaya dan Tolikara pada waktu bersamaan (17 Juli 2015), penembakan di Koperapoka Mimika (28 Agustus 2015), penembakan di Kabupaten Jayapura (11 Januari 2017), penyiksaan saat sweeping (razia) di Kabupaten Dogiyai (10 Januari 2017), penembakan Michael Merani di Kepulauan Yapen (27 Maret 2017), penembakan di Kampung Oneibo (1 Agustus 2017) dan masih banyak lagi kekerasan fisik dan penembakan lainnya yang dialami oleh Orang Asli Papua.
Kekerasan yang dialami Orang Asli Papua juga ketika mereka berjuang untuk mempertahankan hak ulayatnya. Sebut saja kasus dialami oleh Sekretaris Dewan Adat Suku Yerisiam Gua Nabire pada 29 Juni 2017, Yan Ever di Kabupaten Sorong pada 23 Oktober 2017.
“Masyarakat pemilik hak ulayat harus berurusan dengan aparat keamanan yang mengamankan bisnis elit birokrasi dengan pihak perusahaan di Tanah Papua. Masyarakat pemilik hak ulayat sepertinya sudah ‘ditakdirkan’ untuk menerima dan siap menerima kesakitannya” kata Kambayong yang juga Direktur SKP Keuskupan Timika.
Persoalan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan hampir tidak berjalan di pedalaman Papua. Masyarakat harus berjuang untuk melawan segala ketidaktahuannya dengan segala jenis penyakit yang menyerang mereka. Kasus meninggalnya manusia Papua usia Balita di Kabupaten Lany Jaya, Dogiyai, Yahukimo (Saminage dan Korowai) menjadi potret buruk pemenuhan hak dasar kemanusian bagi orang asli Papua.
Kambayong menjelaskan, dengan segala persoalan tersebut, berbagai elemen berusaha untuk perlahan menyelesaikannya. Negara juga bertanggung jawab penuh untuk menyelesaikannya. Negara mulai menguatkan pembangunan infrastruktur dengan program andalan Presiden Joko Widodo, Nawacita. Sejalan dengan itu, perhatian dunia internasional terhadap segala persoalan kemanusian atau HAM di Tanah Papua terus meningkat. Dunia internasional terus memberikan tekanan kepada Negara Indonesia.
Terlepas dari segala persoalan dan perhatian Negara, Gereja Katolik di Tanah Papua melalui Sekretariat Keadilan dan Perdamaiannya berusaha menyuarakan penderitaan dan kesakitan orang asli Papua tersebut. Kesekretariatan ini tersebar di lima keuskupan di Tanah Papua yakni SKP Keuskupan Agung Merauke, SKPKC Fransiskan Papua, SKP Keuskupan Timika, SKP Keuskupan Agats, SKP Keuskupan Manokwari Sorong dan SKPC OSA. Mereka berusaha menyuarakan dan menyelesaikan persoalan tersebut dengan gaya dan situasi yang dihadapi oleh orang yang dilayani.
Buku “Papua: Surga Yang Terlantar, Laporan HAM SKP se-Papua tahun 2015-2017” yang diterbitkan ini merupakan salah satu upaya dari SKP yang berada di Tanah Papua. SKP di Tanah Papua berusaha mendokumentasikan segala persoalan yang terjadi pada tiga tahun (2015-2017). Dokumentasi ini bukan untuk menangisi segala kesakitan tersebut tetapi mengingatkan kita untuk terus berjuang dan berusaha demi tegaknya harkat dan martabat orang asli Papua. Buku ini membantu meneruskan suara mereka (orang asli Papua) yang semakin hari dibungkam.
“Buku ini juga mengingatkan kepada Negara Indonesia bahwa pelanggaran HAM itu belum diselesaikan dan masih terus terjadi hingga saat ini. Kiranya Buku ini menjadi salah satu refrensi bagi kita untuk mengetahui persoalan HAM di Tanah Papua,” katanya.
Ketua aliansi Jurnalis Independen Papua, Lucky ireeuw mengatakan buku itu berisi tragedi kemanusiaan yang terjadi sepanjang tiga tahun terakhir.  
“Antara realitas masyarakat dan peran gereja. Gereja berperan membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.  SKP turut terlibat . Ini adalah potret peran gereja,” katanya.
Ireeuw menyampaikan apresiasinya kepada para penulis buku, karena ketekunan mendokumentasikan peristiwa demi peristiwa di Tanah Papua, sehingga pada akhirnya buku tersebut akan menjadi sumber data yang valid bagi jurnalis, atau penulis buku lainnya.
“Media juga memiliki peran penting dalam penegakan HAM. Namun hingga saat ini media dan jurnalis di Papua measih mengalami kekerasan, intimidasi, pelarangan jurnalis asing, pemblokiran website. Bahkan saat jurnalis di seluruh dunia merayakan hari kebebasan Pers di Jakarta, jurnalis Papua mengalami pemukulan. Hal ini bisa kita dorong bersama ,” katanya. 
Hadir sebagai pembanding buku, dosen STFT Fajar Timur Abdon Bisei menjelaskan, penderitaan rakyat Papua yang terhimpun dalam buku ini, adalah penderitaan Yesus masa kini. Ajaran sosial gereja, adalah societa perfecta yang mengurus hal rohani, dan religius.
“Lalu mengapa gereja terlibat? Keterlibatan gereja sebagai perwujudan iman. Ini sumbangan gereja untuk semua umat manusia. Gereja memang konsen pada bidang-bidang rohani, tapi juga pada bidang lain. Namun di gereja Katolik, tugas ini diberikan kepada awam,” jelasnya.
Sebab itu, hakikat pertanggungjawaban gereja dalam iman, gereja harus terlibat dalam tanggung jawab sosial. Gereja harus peka membaca tanda zaman. “Dan martabat manusia harus dibela,” katanya.
Ketua Gerakan Mahasiswa Pemuda Rakyat (Gempar) Papua, Yason Ngelia mengucapkan terima kasih kepada SKPKC Fransiskan Papua yang sudah mengadvokasi rakyat Papua dengan mendokumentasikan semua peristiwa, sehingga membantu aktivis dan jurnalis untuk ketersediaan data. “Buku ini mereview untuk kita. Ketika kita memerlukan data, ada buku ini,” katanya.
Selain itu Ngelia menjelaskan buku tersebut juga sangat bermanfaat, karena memberikan pengetahuan tentang HAM kepada kaum awam.
“Banyak OAP yang belum tahu, bahwa sebuah kasus bisa dikatakan sebuah pelanggaran HAM, jika aktornya adalah Negara. Dan buku ini memberi pengetahuan tentang hal-hal seperti itu,” katanya.
Walaupun berterma kasih, Yason Ngelia juga menyayangkan lambatnya gereja terlibat dalam persoalan HAM, karena SKP di seluruh keuskupan baru berdiri pada tahun 1998.
“SKP mendorong Papua Tanah Damai. Namun buku ini menjelaskan sebaliknya. Reformasi tidak akan selesai jika militer tidak dibenahi,” katanya. (*)

Oh Kava, Mi Ded Long Yu!

OPEN LETTERS from the Koteka Children: Edition XIIIa, To Hon. Her Excellency: in-Vanuatu
Buku Seri XIII dari Surat-Surat Terbuka Anak Koteka ini terdiri dari tiga Edisi (XIIIa – XIIIc). Berikut terjemahan pengantar kepada Edisi XIIIa. Pada awalnya saya bermaksud menulis hanya satu buku, akan tetapi setelah dua tahu menyusun konsepnya dan menulisnya kembali, saya bermaskud membaginya ke dalam tiga bagian. Bagian pertama, yaitu yang sedang Anda baca ini. Booklet ini merupakan pendahuluan kepada dua bagian yang akan menyusul; memperkenalkan sejumlah pandangan dan perspektif sekaligus kesan yang telah saya miliki sebelum dan setelah mengunjungi Vanuatu.
 
Akan Anda temukan dalam bagian ini dimulai dengan perspektif terhadap Vanuatu sebelum saya datang kemari, disusul dengan hal-hal yang telah saya lakukan dan peristiwa yang terjadi menjelang kunjugan ke Vanuatu. Bagian ini khususnya dimaksudkan untuk menampilkan kesan-kesan, emosi setelah berkunjung ke Vantu, kesan dan pesan setelahnya.
 
Edisi berikutnya akan memfokuskan diri pada hal-hal yang telah saya lihat yang begitu mengganggu, atau yang perlu diperhatikan secara serious selama kunjungan ke Vanuatu.
Buku ini dipersembahkan kepada Almarhum Father Dr. Walter Lini, yang telah memimpin berbagai pulau di Vanuatu meraih kemerdekaan dari kekuasaan kolonial Perancis dan Inggris sekaligus, yang telah diracuni sampai mati karena membela hak-hak fundamental dan tak terabaikan dari sekalian orang Melanesia.
Dan juga kepada kerabatnya, Almarhum Ondofolo Dorttheys Hiyo Eluay; yang diculik pada 10 November 2001 dan ditemukan mati pada 11 November 2001, di tangan para musuh kebenaran dan keadilan di tanah Papua.
Visi mereka tidak pernah dan tidak akan pernah hilang sebelum sekalian orang Melanesia merdeka dan wilayah mereka bebas dari penjajahan.hingga Melanesia menjadi Melanesia sebagaimana ia ada sebelum orang asing datang, ke Pulau Harapan, Pulau Sorga; hingga setiap orang dari Mela yang mendiami nensos antara Oceania dan Asia, antara Polinesia dan Mikronesia, dimusnahkan dari muka Bumi.
————-
To My Dear Kava
c/o Lou Ko Tai Nakamal
The Black Man Town,
the Island of Tanna,
The Republic of Vanuatu, MELANESIA
Subject: Kava! Mi Ded Long Yu!
Dear Darling,
Since we met at the first time at Crossroads Kava Bar in Blacksands that evening, you totally and drastically changed my life. The changes are indescribable as they are beyond imagination of any kinds and above any words I have in my memory and my knowledge to describe.
 
What I want to say to you right now, my dear, is that I would like you to pass this letter to my fellow chiefs in the Republic of Vanuatu, Solomon Islands, Fiji, Kanak, Bougainvillea, and my fellow Papuans in PNG, as I am here in West Papua, letting the chiefs here know as well of my love to you.
 
Please pass me their reply letter when they have finished writing it. Do not forget my address, or better you send it directly to my Nakamal.
 
Do not leave or even forget Nakamal, the place where we first caught each other’s eyes and began our telepathic exercise in sending our feeling’s voice in back-and-forth directions, where then on, we both normally do our personal and private affairs and talk over many sensitive and essential issues regarding our relationship, as your presence or work is always the key to the life of Nakamal. Without you, Nakamal would definitely go crazy.
 
Please do not forget yourself of the Nakamal laws: no women, no selling and buying, no white men, no christians, no muslims, no Buddhists, but only Melanesians with you yourself, my dear. And if I am here, I will be there too.
 
Please remember not to swear or curse, not to hate or kill, but to make peace for all beings within us, under us, around us and above us, among ourselves.
Do let the chiefs know of why I am writing this letter, and why I am passing it through you, as you are the only person I have loved and trusted so far. I do not know what would have happened in my life and my work without you.
 
Let them know that they need to leave Kava Bars, and go to Nakamal/ Nasara as you are more respected there than in bars. Bar is not your place. You are not for sale, but for peace and victory, for unity and respect, for communion and harmony among all communities of beings in Melanesia.
 
Oh Yes, before I forget, let me remind myself in this first letter ever to you, that I am writing a second letter in the coming years. Please do pray for me, please let our elders know about this, and ask them to pray for as well.
 
Also, politely but surely, let them know that our love is not going to an end. It will grow and flourish, bear flowers and fruits, and then produce seeds. That our ancestors will finally enjoy those fruits, plant from the seeds we will provide for them. Only, again, only if our relationship continue to grow, only if we understand our weaknesses and strengths, only if we accept our beings as we are, not as we are dreaming of to be.
 
Let the chiefs know as well, that this letter should also be known to the Government officials, politicians, academics and public servants. I know that our chiefs will welcome and congratulate this letter, but those in modern system will not be glad. They will not accept that we are already in full love with each other. They will find it hard to understand how we met and how we both finally fell in love with each other. However, it is our job, to let all Melanesians know, that we are Melanesians, we live in Melanesian Archipelago, our custom is Melanesian Custom, our law is Melanesian law, our solidarity is Melanesian Solidarity, our love is Melanesian love, and our future is Melanesian future.
 
As I write this letter, I cannot say a word to explain how I have fallen in love with you. I cannot finish this letter, as there is so much to say. Only when we meet face-to-face that I will pour out my oceans of feelings. So, I would rather come myself to see you and show you how big, how deep and how wide that ocean is, my dear.
 
I wanted to say so much and so many things. But my heart is not ready, and my words are limited to express this love that I am writing about. It is already “my time” right now. But I am coming. See you soon.
With Deep Love,
Karoba, Sem

Finn Gruva - Overwhelmed





Loading...
Rp.000.00
Description your product.............

Noqu Lewa by Na Drua



Loading...
Rp.000.00
Description your product.............
Pages (9)1234567 Next
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Papua Books - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger